JAKARTA – Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menyatakan bahwa kebijakan Work From Anywhere (WFA) terbukti efektif dalam mengurai kepadatan arus mudik dan balik selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Melihat keberhasilan tersebut, Irjen Agus menyebut kebijakan ini berpotensi besar untuk diterapkan kembali pada momen arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.
Rencana ini sudah mulai dikoordinasikan dengan pihak Kementerian Perhubungan guna mencari formulasi waktu yang tepat. “Kami sudah bincang-bincang dengan Pak Menhub, nanti pada saat Operasi Ketupat pun juga kita pikirkan hari-hari apa dilakukan work from anywhere,” ujar Irjen Agus kepada wartawan seusai memantau arus lalu lintas di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/1/2026).
Selain aspek WFA, Irjen Agus juga menyoroti efektivitas Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pengaturan pembatasan truk sumbu tiga. Menurutnya, kebijakan ini sangat krusial dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas selama periode mobilitas tinggi masyarakat. SKB terkait operasional truk sumbu tiga ini dipastikan akan menjadi aturan yang kembali diupayakan saat Lebaran mendatang.
“Termasuk juga pembatasan sumbu tiga. Ini sangat penting karena memang keselamatan, kelancaran itu yang paling utama. Kita pastikan bahwa kendaraan itu berkeselamatan, jalan itu berkeselamatan, termasuk pengemudi yang berkeselamatan,” jelas Irjen Agus menekankan tiga pilar keselamatan jalan raya.
Langkah-langkah strategis ini merupakan bagian dari adaptasi kepolisian terhadap dinamika pergerakan masyarakat yang terus berubah. Evaluasi dari pengamanan Nataru menjadi fondasi penting bagi kesiapan jajaran Polri dalam menghadapi Operasi Ketupat yang akan datang.
Kakorlantas menambahkan bahwa kebijakan WFA pada dasarnya merupakan hasil kajian mendalam untuk mendistribusikan beban volume kendaraan agar tidak menumpuk pada satu waktu tertentu. Dengan adanya pembagian waktu perjalanan, indikator statistik kendaraan di jalan raya menjadi lebih mudah dikelola oleh petugas di lapangan.
“Work from anywhere ini sebetulnya kan kajiannya bagaimana kita bisa mengurai arus mudik dan arus balik. Dan kita bisa memprediksikan ketika terurai panjang, itu kan traffic counting di jalan itu kan lebih bisa dikendalikan,” imbuh Irjen Agus Suryonugroho menutup penjelasannya.






